Postingan

Menampilkan postingan dengan label cuma kata

Dilamar!

Gambar
Rabu, 29 Desember 2021 Hari ini kamu libur. Semalam sebelumnya kita bertanya-tanya mau pergi ke mana selagi kamu libur. "besok ke mana ya?" "ke puncak." "iya ya? kamu udah lama ya nggak jalan-jalan." "iya kan.. kita motoran aja terus makan indomie di warung," aku tiba-tiba antusias karena sepertinya kamu menyambut baik jawaban sekenanya aku tadi. Seperti itu. Lalu tiba-tiba kita punya rencana ke puncak. Pagi harinya. Pukul 05.00. Hujan. "hujan nih, kayaknya nggak usah deh, takut repot di jalan," ujarku. Satu jam kemudian, "sisa gerimis aja nih, gas aja yuk, bismillah," chatmu aku baca sambil sedikit mengernyitkan dahi. Tumben, pikirku. Meski bingung, tentu aku iyakan dengan semangat. Akhirnya kita berangkat ke puncak naik vespa. Di perjalanan, kamu menyarankan tempat-tempat yang bisa kita kunjungi di sana. "nggak mau, aku cuma mau makan mie di warung sambil liat pohon," jawabku nggak berubah sampai akhirnya kita mula...

Ibu (koma) Kota Ini

Ibu, kota ini sibuk membungkus bingkis. Mata manis, mulut sinis. Mulut manis, hati amis. Tak pernah jelas ada apa di balik tawa dan tangis. Kau hapal kan, Bu, aku tak mau memakai rok polkadot jika motif bajuku garis-garis. Sekarang, segalanya tak harmonis. Ibu, kota ini hobi memelintir. Aku terlalu lemah mencerna satir. Pun tak cukup peka didamprat sindir. Tak ada yang dapat dipahami oleh anakmu yang pandir. Aku rindu omelanmu yang panjang itu, Bu. Jernih. Amat jernih meski seribut petir. Ketulusan yang kau junjung sekadar kujinjing. Prasangka baik yang kau gadang kusempilkan di gudang. Benda-benda itu terlampau usang di kota yang kini asing. K alah prestis dibanding pemikiran dan laku 'kritis.' Aku hanya ikuti aturan main. Jika tak sanggup melawan, menyamarlah menjadi kawan. Aman. Ibu, kota ini ternyata tak semenyenangkan yang kau bicarakan. Kejujuran dan ketulusanmu yang kurindukan. Percaya dan maaf yang kau tanam tak lagi tumbuh. Mungkin hanya soro...

Dear All Family

Pengalaman magang di salah satu panti rehabilitasi narkoba tepat di bulan Ramadhan tahun lalu masih meninggalkan banyak kesan. Tadinya mau cerita soal hal itu di sini, tapi karena berbagai pertimbangan akhirnya mutusin untuk nggak dishare di sini. Biarlah jadi kenangan manis di hati aja. (?) Meski begitu, untuk mengabadikan momen seberharga itu gue ngerasa perlu meninggalkan sedikit jejak tentang mereka, para famili tercinta ("Famili" adalah sebutan yang mereka gunakan untuk menyebut diri mereka sesama residen – pecandu narkoba yang lagi direhabilitasi). Untuk mengingatkan diri gue tentang mereka, gue cuma bisa bilang Masa lalu mereka gelap. Masa depan mereka tak ada yang tahu. Yang kutahu, mereka tengah merangkak keluar dari kegelapan. Mencoba meraih cahaya tuk masa depan. Kita sama dengan mereka, hanya saja... Saat cahaya kita mulai redup, ada banyak yang siap membagi cahanya. Saat cahaya kita hampir padam, kita ingat akan cahaya di atas sana yang tak p...

Ujian atau Azab?

Jangan bersedih. Tuhan sedang mengujimu. Kau akan naik kelas jika kau berhasil dalam ujian ini. Akhirnya, kau rasakan sendiri akibatnya! Azab Tuhan nyata. Kini Dia tunjukkan kemarahan-Nya padamu. Ini tanda sayang atau balasan dosa? Tak satu pun kebaikan ada dalam ribuan dosaku. Sebaliknya, ribuan dosa serta dalam kebaikanku yang satu. Racun dan penawar hati tak jarang saru. Aku tak sempurna dalam menghitung nikmat-Mu. Yang kuminta tapi tak Kau beri kadang terlihat lebih dari yang Kau beri tanpa pernah kuminta. Aku tak sempurna dalam merayu-Mu. Merasa sering menjura, padahal hati lebih sering mendua. Aku tak sempurna dalam memohon ampun. Tangisku kala mengingat dosa tak lebih keras dari tawaku akibat dunia. Ini tanda sayang atau balasan dosa? Aku tak punya jawaban tepat. Yang aku punya hanya keyakinan bahwa Kau Maha Penyayang dan Maha Pemaaf.

Saat Kau Bilang Tuhan Penipu

Jika kau menghilang, berarti kau sedang riang. Aku turut senang meski sesekali malamku seolah memanjang. Dicari hanya saat otakmu cenut, aku tak merengut. Dihubungi hanya saat isakmu pecah, aku tak masalah. Ditemui hanya saat wajahmu lusuh, aku tak mengeluh. Kata 'hanya' sungguh tak menjadi beban. Masalahmu yang kukhawatirkan. Caramu menyikapi masalah yang jadi persoalan. Kau mulai mengutuk Tuhan. Seketika aku merasa gagal menjadi teman. Sahabat, perlu kah kita bertukar tempat? Siapkah kau menampung curhat? Haruskah aku ikut mengeluhkan sisiku yang cacat? Biar kau tahu bahwa hidupmu tak sebegitunya sekarat. Bahagia tak berarti segalanya sempurna. Bahagia soal bagaimana kau melihat hikmah. Bersyukur tak hanya saat hidupmu sesuai rencana. Bersyukurlah dengan melihat ke bawah. Temui Tuhan-mu sebelum aku. Agar kau tahu siapa yang sesungguhnya penipu.

Lelaki yang Kami Banggakan

Gambar
Dia yang saat kecil lebih sering di sawah daripada di bangku sekolah. Membantu orang tua menanam padi atau mengangon kambing. Dia yang tak pernah lulus SD karena di usianya yang ke dua belas memilih ikut kakaknya berdagang di ibu kota.  Dia yang pandai mengelola uang sejak remaja. Saat remaja, hasil jualan ia tabung dengan rumus 1/3. Sepertiga untuk hidupnya sehari-hari, sepertiga untuk orang tuanya, dan sepertiga untuk mewujudkan cita-citanya; pergi haji. Impiannya itu terwujud sesaat sebelum ia menikah. Dia yang saat muda rajin mengikuti pengajian di masjid-masjid. Sampai suatu hari ia nekat menghampiri gurunya, seorang ulama yang cukup disegani, untuk meminta dicarikan calon istri. Saat itu umurnya 24 tahun. Entah apa yang membuat gurunya sepercaya itu pada sosoknya, tak tanggung-tanggung ia dikenalkan dengan keponakan sang guru. Dia yang saat itu tidak mudah menyerah dengan sikap tak acuh keponakan sang guru. Dia, yang entah dengan ilmu apa pada akhi...

Wanita yang Kami Sayangi

Gambar
Dia yang ditinggal ayahnya saat berusia 8 tahun. Menjadikannya gadis kecil dengan tanggung jawab besar; mengasuh lima orang adik. Dia yang amat diproteksi kakeknya dalam berinteraksi dengan lelaki. Sampai di usianya yang ke 33 ia diminta menemui lelaki yang dibawa pamannya. Padahal peraturan kakeknya jelas; anak gadis tidak boleh menemui tamu laki-laki. Ia sengaja berpenampilan kucel sebab tak mau dinikahi "anak kecil" yang 9 tahun lebih muda darinya. Selain itu, ia juga menyukai laki-laki lain. Laki-laki yang lebih mapan dan berpendidikan. Dia yang hidupnya tak macam-macam. Pada akhirnya hanya ridho Allah dan orang tua yang ingin ia genggam. Ia memimpikan sosok "anak kecil" yang dibawa pamannya bersinar dan tinggi besar, sementara laki-laki yang ia sukai menjadi sosok yang kecil. Ia pun yakin menerima pinangan si "anak kecil". Menjadikannya suami, lalu ayah dari keempat anak mereka. Ayahku. Dia yang punya jawaban khas saat anaknya bertanya m...

Selesai sebelum Dimulai

"Orang lebih termotivasi untuk menghindari kegagalan daripada meraih keberhasilan." Itu sebabnya tulisanku ini kuakhiri sekarang.

Anto (Tak) Suka Hujan

Gambar
Hujan di pagi hari. Anto menjinjing sepatu ke sekolah. Sepulang sekolah, bukunya masih basah meski ia sudah di rumah. Anto tak suka hujan. Hujan turun lagi saat Anto bermain. Larinya terasa berat, laju bola terhambat. Lapangan becek, bajunya lepek. Anto tak suka hujan. Hujan deras membanjiri kota. Ayah ibunya terbaring. Mereka terkilir usai terseret arus banjir. Anto tak suka hujan. Hujan kembali turun. Anto ke luar, hujan ditantang. Berdiri di tepi jalan menawarkan payung merah di tangan. Anto bocah berpayung merah kini mencari uang. Anto bocah berpayung merah. Basahnya bukan hanya karena hujan, tapi juga peluh lelah. Payung merah ia genggam lemah. Ia masih menjemput receh meski terengah. Anto bocah berpayung merah. Ia menyesali air hujan yang mulai naik. Payung ditutupnya tanpa marah. Ia sadar ini saatnya mentari kembali terik. Anto bocah berpayung merah. Berharap hujan datang setiap hari. Langit terang mengundang resah. Ia khawatir keluarganya tak makan lagi...

Rumput yang Baru

Gambar
Ini bukan perkara rumput siapa yang lebih hijau. Rumputmu hijau, rumputku pun hijau. Selama dirawat rumput akan tetap hijau. Aku merawat rumputku dengan baik. Santai, aku tak sedang paceklik. Ini bukan pula soal tidak bersyukur apalagi kufur. Nikmat-Nya terlalu nyata untuk diabaikan mata. Bahagiaku lebih dari cukup. Saat ada yang tak bisa kuraih, Allah mengganti lebih. Tenang, aku tak sedang bersedih. Ini soal peningkatan, pengembangan, dan perbaikan. Sama seperti rumput yang terus tumbuh, aku juga ingin tumbuh. Jika diam berarti mati, maka hidup perlu bergerak. Padang rumputku jutaan kali sudah kutinggali jejak. Jika bisa mengelilinginya dengan mata tertutup, masih kah itu terhitung gerak? Bersyukur bukan berarti hanya tidur. Menganggurkan nikmat-Nya yang lain, tidak kah itu tergolong kufur? Aku butuh padang rumput baru. Tanah-Nya masih banyak. Padang rumput baru akan kugarap. Demi  menggerakkan hidup dan menghidupkan gerak.

Dia itu...

Seorang yang kukenal di bangku SMA (tepatnya beberapa bulan sebelum masuk SMA) ini adalah makhluk yang mandiri. Masak sendiri, makan sendiri, nyuci baju sendiri, jalan-jalan sendiri. Apa-apa dan ke mana-mana sendiri pokoknya. Ditambah dengan keberanian yang dimiliki, dia siap sendirian menyusuri dunia baru sekalipun. Tsaah mandiri atau jomblo, Mbak? Eits, dia nggak jomblo lho. Itu dia. Kasian pacarnya, kadang. Irit cerita saat ada masalah mungkin jadi keahliannya. Penyembunyi ulung. Kesannya sih kuat, tapi sebenernya... Dia nggak akan sembarang curhat minimal sampai dia nemuin sendiri setitik pencerahan. Kalo udah ada setitik pencerahan yang sebenernya belum mencerahkan alias bikin dia jadi dilema harus memutuskan, baru deh dia cerita ke orang yang bener-bener dia percaya.  Orang-orang terpilih itu bakal dia mintain pendapat dulu sebelum dia ambil tindakan. Pada dasarnya dia selalu mikir mateng-mateng sebelum bertindak, tapi dia sering ragu sama pemikirannya sendiri dan malah l...

Waktu Semula

"Hanya masalah waktu dan semua akan kembali seperti semula, seperti tak ada masalah" Satu kalimat itu, yang tak sengaja terbaca pagi ini, seketika merobohkan pertahananku. Pertahanan yang kupaksa kokoh sejak beberapa tahun lalu demi menutupi satu gambaran masa lalu yang menurutku kelam. "Memaafkan bukan berarti melupakan". Itulah salah satu bahan pertahananku. Apa benar maafku jika melupakan saja tak mampu? Apa benar maafku jika dadaku sesak hanya karena membaca kalimat di atas? Pertahanan yang kubuat tak lain hanyalah sebuah penolakan dan penyangkalan. Menolak bahwa aku pernah mengalami hal itu dan menyangkal bahwa aku seorang pendendam yang tak bisa memaafkan. Tapi, bukankah memaafkan memang bukan berarti melupakan? Cukup. Buang bahan itu sekarang. Beri aku waktu. Bukan, bukan untuk memperkuat dan mempertinggi pertahananku. Beri aku waktu untuk menerima hal itu sebagai pengalaman yang membantu kita melewati tahap perkembangan. Beri aku waktu untuk mengikhlas...

Lima Menit Bisa Apa?

Guling-guling di tempat tidur buat tidur lagi? Megang handuk dan ngelamun di depan kamar mandi? Milih satu dari sederet baju yang ada di lemari? Berdiri depan cermin ngatur poni biar nggak berspasi? Ngomel di depan laptop akibat lambatnya koneksi? Bolak-balik baca daftar menu kiri-kanan-kiri? Basmi lapar dengan masak indomie? Ngeringin setumpuk pakaian dengan mesin cuci? Buka jalan jadi artis dengan ikut audisi? Bikin orang ketawa lewat komedi sambil berdiri? Ningkatin penjualan lewat iklan di TV? Ngasih tausyiah sebelum beduk azan magrib berbunyi? Nyerang balik, nyetak gol, dan jadi seri? Beribadah mendekatkan diri pada Illahi? Dapat 40% nilai Pelatihan II dengan presentasi di depan penguji? (iya, ini curahan hati) Semua itu bisa terjadi dalam lima menit. Lima menit bisa berarti banget atau malah basi banget. Kamu yang pilih bagaimana lima menitmu diisi. Lima menit bisa apa? Yang pasti, bisa buat baca postingan ini. ;)

Garam

Terasa meski wujudnya tak ada Baru disadari jika rasanya pergi Luka bersih dengan membuat perih Dieksploitasi, lalu orang darah tinggi Bermanfaat tak perlu terlihat Bermanfaat kadang dituduh jahat Bermanfaat jika porsi tepat Garam penyedap rasa Garam penyembuh luka

Mati Terhakimi

Pagi Berlomba dengan matahari Dulu-duluan menyapa bumi Bukan ayam pematok rejeki Tapi ratusan orang yang naik metromini Aku berlari untuk kursi Sebut aku tak tahu diri Naik bus itu duduk, bukan berdiri Siang Kerja kejar tayang Yang penting bos senang Kerja kejar tayang Yang penting sempat makan rendang Lepas lapar kenangan datang Tak apa konsentrasi hilang Kan kerja kejar tayang esok masih bisa diulang Sore Secangkir kopi di kafe Sepiring somay tanpa pare Abadikan dengan kamera hape Apa pun yang terlihat hore Demi 'like' di FB Meski aku jadi kere Malam Pulang di atas jam enam Sikutku masih tajam Apa itu senyum sapa salam Asal di bus mata terpejam Selanjutnya biar kasur menelan tubuhku yang remuk redam Malam pergi, pagi kembali Silakan baca dari atas lagi Kurang empati! Tak punya mimpi! Hidup tanpa esensi! Begitu komentarmu sembunyi-sembunyi Malam pergi, pagi tak kembali Tak ada yang bisa kau baca lagi

Kursi Pesakitan

Gambar
"Ayah, kursi pesakitan itu apa sih? Kenapa namanya pesakitan?" "Apaan sih anak kecil sok baca koran. Sini! Kursi pesakitan aja nggak tau. Kursi pesakitan itu kursi yang bikin sakit. Keras, tajem. Sakit deh pokoknya kalo duduk di situ." Kau tersenyum pada kami. Berarti Abang benar? Kupikir karena kursinya keras. "Waktu kita tinggal satu hari, kau belum berhasil membujuknya? Bilang saja malam ini aku kena serangan jantung ya." "Pesakitan..pesakitan adalah orang yang terkena hukuman; terdakwa. Oh! Kalo gitu kursi pesakitan artinya..akh sebel dulu aku percaya aja lagi diboongin sama abang! Awas kamu, Bang!" Kau tertawa terbahak-bahak. Kali ini aku yang benar. Kupikir karena kursi itu untuk terdakwa. "Kau bilang kau bisa diandalkan, tapi kenapa bukti-bukti itu masih ada?? Tolong bawa aku ke rumah sakit." "Mentang-mentang udah SMP, berani ngambek ya sekaraang. Aku minta maaf deh. Yang penting...

Rindu di Malam Minggu

Rindu di malam minggu Pada angka berlingkar mataku terpaku Dayaku sebatas menghitung waktu Menyilang angka satu per satu Obat rindu hanya jumpa Tak sembuh dengan uraian kata Obat rindu hanya jumpa Tapi pelukku sampai lewat doa Kutitip rindu di langit sana Ambilkan untukku Kembalikan saat kita bersua Di malam minggu pertama bulan kedua

Menuju 20

Saat kita mulai dewasa, bukan sekadar mainan rusak penyebab tangisan. Bukan lagi takut kehabisan film kartun kesayangan yang buat gelisah. Beranjak dewasa, perlahan tapi pasti, aku diperlihatkan banyak hal. Mulai dari yang indah sampai yang menjijikan. Beruntung, setiap hal diperlihatkan kepadaku dari berbagai sudut pandang. Beberapa hal mutlak, sisanya relatif. Soal aksi-reaksi. Itu kupelajari. Apakah aku siap jadi orang yang dibilang dewasa? Apakah aku siap mengalami, bukan hanya melihat, berbagai hal dari yang indah sampai menjijikan? Kecemasan seperti itu mulai sering muncul. Kalau sudah begitu, yang kulakukan hanya mengingat berbagai hal yang sudah kupelajari dan bertekad itu akan kuterapkan dalam kehidupan dewasaku. Biar bisa melompat lebih tinggi..dan kalaupun masih terjatuh -pasti, setidaknya jatuh ke lubang yang lain. Lumayan, menambah pengalaman dan pelajaran. Saat kita mulai dewasa, saat itulah banyak hal tampak nyata. Mungkin bukan keadaan yang berubah...

Selasa

Sudah sejak Jumat hari Selasa menghantuiku. Awalnya, Selasa seperti hari lainnya, antre teratur dalam barisan menunggu waktu tampil. Tapi tiba-tiba, kala suatu pemicu di Jumat pagi itu datang, Selasa merengek, minta perhatian, ingin tampil duluan. Walau dia tetap harus mengantre menunggu giliran, tapi dia sukses membuatku mengabaikan sisa Jumat, seluruh Sabtu, Minggu, dan bahkan Senin yang belum nampak. Empat hari kusiakan hanya untuk Selasa. Digantung memang tidak enak, Kawan! Selasa cepatlah maju, tunjukkan penampilanmu. Apapun yang kau sajikan di atas pentas, aku siap menikmatinya. Asalkan itu sebuah jawaban, sebuah kepastian.

Langkah Kita

Aku butuh kamu. Kamu butuh aku. Aku dan kamu, kita. Kami butuh kamu. Kamu butuh kami. Kami dan kamu, kita. Kami butuh kalian. Kalian butuh kami. Kami dan kalian, kita. Sepuluh langkahku, sepuluh langkahmu, sepuluh langkah kalian. Jutaan langkah kita. Siap menggapai asa. " If you want to walk fast, walk alone. If you want to walk far, walk together "